5 Stigma Salah Kaprah Soal Asuransi Jiwa yang Berkembang

Harus diakui, kesadaran untuk memiliki asuransi orang Indonesia masih terbilang rendah dibandingkan negara lain. Salah satunya karena stigma yang salah mengenai asuransi terlebih asuransi. Susah daftarnya lah, inilah itulah, padahal sebenarnya sekarang sudah ada sistem pengajuan asuransi jiwa online yang memudahkan. Lalu, apalagi stigma negatifnya?

Membuang Uang Percuma

Salah satu stigma salah kaprah yang berkembang di kalangan Indonesia soal asuransi terlebih asuransi untuk jiwa adalah hanya membuang uang saja. Kadang, tak sedikit juga yang menganggap asuransi sama dengan investasi. Padahal, asuransi sebenarnya adalah strategi manajemen risiko finansial terlebih pada asuransi untuk jiwa.

Contoh mudahnya, bila Anda meninggal dunia dan orang di rumah Anda belum ada yang bekerja selain Anda. Apa yang bisa mereka lakukan sepeninggal Anda? Nah, dengan asuransi untuk jiwa ini keluarga Anda tetap bisa mendapatkan dana atau uang untuk hidup beberapa waktu dengan jumlah sesuai dengan yang Anda pilih sebelumnya.

Asuransi dan Penghasilan

Kebanyakan orang membeli asuransi tujuannya malah melenceng. Orang mengira, saat memiliki penghasilan, maka mereka harus memiliki asuransi juga. Pandangan ini sebenarnya ada benarnya, namun salah juga. Asuransi sebenarnya baru dibutuhkan bila Anda memang ada risiko finansial yang ditanggung.

Misalnya, Anda memiliki tanggungan istri dan anak dan bila Anda tiba-tiba sakit parah dan tak bisa bekerja lagi, atau malah meninggal dunia, mereka tak mendapatkan sokongan finansial lagi. Oleh sebab itulah Anda butuh memiliki asuransi untuk jiwa. Sebab, asuransi ini tetap bisa meng-cover kebutuhan finansial keluarga dengan jumlah pertanggungan tertentu.

Asuransi untuk Jiwa Tak Wajib

Selama ini asuransi ini dianggap paling sebelah mata dibanding jenis asuransi lain. Padahal, jika dilihat sebenarnya asuransi ini juga memberikan manfaat yang besar. Salah satunya adalah untuk tetap menyejahtrakan hidup keluarga Anda bilamana nanti Anda meninggal atau sakit parah dan tak bisa bekerja lagi.

Sederhananya, asuransi untuk jiwa ini akan menggantikan kontribusi finansial Anda pada ahli waris selama menjadi tanggungan. Beberapa lembaga asuransi ini menawarkan premi yang terjangkau namun Anda tetap bisa mendapat perlindungan yang maksimal. Tapi, kalau Anda belum memiliki tanggungan, memang belum masalah kalau tak memiliki asuransi ini.

Baca Juga: Pinjaman Uang untuk Modal Usaha

Asuransi Jiwa Itu Investasi

Ada yang beranggapan bahwa asuransi itu adalah investasi. Sebenarnya, memang ada asuransi untuk jiwa yang menawarkan hal ini. Unit linked namanya. Namun, bila Anda memilih jenis yang satu ini, perlindungannya dan keuntungan yang bisa didapat tak akan maksimal. Malah, sebenarnya Anda bisa terjebak saja.

Kebanyakan para perencana keuangan lebih menyarankan memilih asuransi murni saja. Sebab, asuransi ini benar-benar untuk meng-cover kebutuhan finansial di saat buruk nanti. Bukan malah untuk investasi atau menabung. Kalau mau investasi atau menabung, lebih baik bukan yang tergabung dalam asuransi.

Salah Mengasuransikan Diri

Stigma salah kaprah lainnya adalah siapa saja bisa mengasuransikan diri pada asuransi untuk jiwa ini. Padahal, sebenarnya tidak. Asuransi ini hanya disarankan untuk mereka yang memiliki tanggungan saja. Para pencari nafkahlah yang sebaiknya tergabung dalam asuransi ini. Sedangkan yang tidak, tak perlu memilikinya.

Itulah beberapa stigma negatif yang selama ini berkembang. Di zaman yang serba mudah seperti sekarang, Anda bisa melakukan pengajuan asuransi online dan bisa membandingkan berbagai lembaga asuransi dengan mudah. Salah satunya dengan memakai https://www.cekaja.com/asuransi-jiwa. Jadi, tak usah termakan stigma negatif seperti di atas lagi!